Thursday, November 6, 2014

NYERUIT (BUDAYA NEGERIKU)

#Budaya Negeriku --
Nyeruwit , Makan Bareng ala Lampung
Teks dan Foto-foto: Christian Heru Cahyo Saputro, Editor dan Peneliti Folklor pada Sekelek Institute and Publishing House
Bagi masyarakat Lampung, seruit bukan sekadar makanan. Seruit adalah simbol yang menegaskan kebersamaan. Kebersamaan ini sudah tertanam berabad-abad  di Sang Bumi Ruwai Jurai—sebutan untuk bumi Lampung---, sehingga proses akulturasi budaya berlangsung mulus di bumi Lampung yang di sebut juga Sang Bumi Ruwai Jurai.
Provinsi Lampung  tak hanya dianugerahi alam yang memesona dan budaya yang adiluhung. Orang Lampung yang punya falsafah Piil Pesenggiri juga terkenal ramah dan welcome, salah buktinya daerah ini menjadi pilot proyek transmigrasi di era penjajahan Belanda dengan sebutan kolonisasi yang dilauching pada tahun 1905 dengan tujuan pertama desa Bagelen.
Selain itu, Orang Lampung juga punya sifat terbuka dan menghormati pendatang. Untuk itu orang Lampung juga punya tradisi cuak mengan (makan bersama) dengan  menu utama (main menu) seruit. Aktivitas makan bersama ini sering disebut   mengan nyeruwit bejamou alias  lebih dikenal dengan istilah nyeruwit.
Kuliner nyeruwit merupakan budaya makan masyarakat Lampung. Tradisi nyeruwit ini telah berlangsung secara turun-menurun dari nenek moyang mereka dan hingga kini masih tetap dipelihara oleh sebagian besar masyarakatnya.
Tradisi ini khas dari baik dari segi bahan bahan baku,rasa, cara makan, dan waktu konsumsi. Bahan baku berupa sambal terasi yang lezat, makan dengan tangan dengan suasana penuh keakraban, dan cocok dinikmati kapan saja menjadikannya benar-benar khas. Tradisi ini mewariskan kearifan lokal karena semua bahan baku dan teknologinya serba lokal. Dilihat dari bahan bakunya nyeruwit diyakini bergizi tinggi.
Masakan khas Lampung adalah seruit, yaitu masakan ikan digoreng atau dibakar dan dicampur dengan sambel terasi, tempoyak (olahan durian) ataupun mangga kuwini. Jenis ikan adalah ikan sungai seperti belida, baung, layis dll, ditambah lalapan. Sedangkan minumannya adalah serbat, terbuat dari jus buah mangga kwini.
Hidangan lalapan dalam sambal seruit bisa bervariasi, namun di Lampung dikenal berbagai jenis tumbuhan yang cocok menjadi bahan lalapan. Selain timun, petai, kemangi, kol dan tomat. Namun tersedia pula lalapan jagung muda, papaya, daun singkong dan adas.
Cara Nyeruwit
Langkah-langkah nyeruwit meliputi cara membuat seruit. Tata cara nyeruwit sebagai berikut . Langkah-langkah nyeruwit  mencuci kedua tangan  dengan sabun sampai bersih, bila perlu cuci dengan larutan pembersih seperti Antis atau sejenisnya.
Kemudian, ambil wadah untuk nyeruwit berupa piring cekung atau mangkok kecil, lalu masukkan sambal terasi, ikan bakar/goreng, bahan pengasam, tempoyak atau yang lainnya, aduk/remas-remas bahan dalam mangkok dengan menambahkan air minum secukupnya hingga semua bahan tercampur; dan nyeruwit  siap disantap dan dapat dimulai dengan mengambil seruwit dengan daun singkong dan dimakan dengan nasi.
Yang menarik dalam acara nyeruwit , semua unsur makanan diracik sekaligus dan harus habis saat itu juga. Lap dan air es atau jus menjadi syarat berikutnya mengingat tangan yang mesti dibersihkan dan tenggorokan yang perlu didinginkan untuk mengurangi rasa panas akibat pedasnya sambal terasi.  Mereka umumnya makan sambil berbincang-bincang ngalor-ngidul  dari masalah rumah tangga, domestik sampai urusan luar negeri.
Seruit yang sudah jadi dalam satu wadah dimakan bareng. Rebusan daun singkong atau lalapan lainnya diambil secukupnya lalu dicocol ke seruit. Setelah itu letakkan di sesuap nasi, dan dihantar hingga mulut, dikunyah, ditelan hingga tandas masuk perut.
Lalapan mengiringi suapan nasi yang sudah ditelan tersebut. Rasa seruit yang pedas, asam, dan manis memiliki  daya nafsu penikmatnya untuk melicintandaskan hidangan yang ada dalam kebersamaan.
Masyarakat Lampung sangat memercayai bahwa jika ingin makan sebaiknya tidak sendiri. Karena mencicipi masakan seruit tak ada hasilnya jika tidak dinikmati oleh teman-teman ataupun banyak orang
Nyeruwit identik dengan makan bersama alias rame-rame, khususnya dengan anggota keluarga. Maka, prosesi nyeruwit menjadi puncak keindahan masyarakat yang amat mengutamakan persaudaraan.
Bagi masyarakat Lampung, seruit bukan sekadar makanan. Seruit adalah simbol yang menegaskan kebersamaan. Kebersamaan ini sudah tertanam berabad-abad  di Sang Bumi Ruwai Jurai—sebutan untuk bumi Lampung---, sehingga proses akulturasi budaya berlangsung mulus di bumi Lampung yang di sebut juga Sang Bumi Ruwai Jurai.
Daerah Lampung telah membuktikan dirinya sebagai  daerah yang multikultur dengan sebutan Indonesia Mini. Bermacam-macam suku bangsa tinggal di kawasan bumi Lampung.
Kekayaan tradisi ini menjadi penanda penting bergeraknya Lampung, khususnya Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi Lampung sekaligus ibukota kota Bandar Lampung, menghadapi modernitas tanpa kehilangan visi.  Tak kehilangan jatidiri. Dan  tradisi  nyeruwit  menjadi salah satu unsur yang mempertalikan keberagaman tersebut dalam suatu ikatan yang indah.
Tercatat di MURI
Makan seruit bersama  yang pernah dihelat Pemkot Lampung pada tahun 2011 dalam rangkaian memeriahkan hari jadi Kota Bandar Lampung tercatat dalam rekor Muri nomor 4.937.
Menurut Deputi Manajer MURI Awan Rahargo, acara nyeruwit massal ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Dan hebatnya makan bersama ini tidak didanai Pemkot Bandar Lampung. Masing-masing masyarakat membuat seruit dan memakannya bersama. Ini membuktikan rasa sakai sambaian atau gotong-royong masyarakat kota Bandar Lampung.
Maka ketika pada festival Begawi 2011 acara nyeruwit bersama yang  diikuti 10.800 warga Bandar Lampung  di Lapangan Saburai, Bandar Lampung masuk Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri).  Yang penting jadi catatan peristiwa ini bukanlah untuk faktor meraih rekor Muri semata, tetapi sebuah peristiwa budaya.
Peristiwa ini bukan hanya untuk pemenuhan syarat rekor Muri berupa unsur superlatif, langka dan unik, tetapi atmosfer kebersamaan yang mendasari hajat yang didedikasikan untuk memarakkan HUT Kota Bandar Lampung  ini adalah nilai plus.
Ribuan orang dengan pakaian adat, lengkap dengan sarung yang melilit pinggang plus duduk lesehan tanpa mengenal kasta dan kedudukan mengan nyeruwit bejamou (makan seruit bersama).

Pengirim : Christian Heru Cahyo Saputro
Jalan Imam Bonjol – Gg.Nangka 018 Bandar Lampung 35151
Email :christ_lampunk@yahoo.com



















Jakarta, Sayangi.com - Provinsi Lampung adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang kaya akan keragaman seni budaya, adat istiadat dan kuliner serta tata cara penyajian makanan dan peralatan khas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam adat istiadat.

Dalam kesempatan acara Pembukaan Pameran Peranti Saji Indonesia yang diselenggarakan di Gedung Jakarta Convention Center (JCC) mulai tanggal 19 hingga 22 September mendatang ini, tim Sayangi.com bertandang khusus ke stand peranti saji milik Provinsi Lampung.

Ditemani khusus oleh Ibu Azizah Arozak dan Tekad Utami dari Pemda Provinsi Lampung Tulang Bawang, tim Sayangi.com menjelajahi budaya saji khas Lampung. Menurut Ibu Azizah Arozak, salah satu tradisi orang Lampung dalam segi kuliner dan tata cara penyajian uniknya disebut juga Cuwak Mengan Nyeruwit, yang berarti mengundang makan orang untuk nyeruwit bersama.

“Nyeruwit berasal dari kata Seruwit, yang artinya makanan khas orang Lampung yang didalamnya terdiri dari sambal terasi dicampur dengan ikan, terong ungu bakar serta mentimun.” Tuturnya ketika ditemui Sayangi.com di Assembly Hall JCC.

Penyajian makan dalam Cuwak mengan Nyeruwit ini memang unik, karena dalam satu wadah atau tempat seruwit ini dimakan secara bersamaan. “ Hal tersebut mengandung filosofi bahwa orang Lampung itu menyatu dalam kebersamaan baik dalam suka maupun duka. Dan biasanya setelah makan bersama ini diisi dengan cerita dan senda gurau yang tentu saja akan mempererat antara keluarga dan teman sejawat lanjutnya antuias.

Makanan yang akan dihidangkan dalam Cuwak Mengan Nyeruwit adalah nasi dan lauk pauk yang terdiri dari Pindang Ikan, Ikan Bakar, Ikan goreng, Pepes Ikan, Sambal Terasi, Lalapan (Daun Gandaria, pucuk rotan, buah kedongdong hutan, jengkol muda, Lempuyang, daun Pegago, Timun, Terong Bakar, Julang jaling, Kemutik Lekow serta Letak Letung.

Dan sebagai makanan penutup ada serbat dan buah khas Lampung (sawo, nangka, dan pisang muli) Semua makanan tadi dihidangkan diatas tikar yang terbuat dari daun purun dan tidak menggunakan kursi, atau mirip seperti lesehan. Kemudian dalam makan bersama itu juga tidak menggunakan sendok garpu, karena kebiasaan orang Lampung makan menggunakan tangan.

Dalam kesempatan unik ini, Ibu Azizah Arozak bahkan sangat antusias menunjuk beberapa peralatan makan atau peranti saji khas Lampung. Ada Talam Dolang, yaitu tempat membawa nasi, lauk pauk, kobokan dan lainnya yang berhubungan dengan perlengkapan makan. Ada Pighing atau piring yang digunakan untuk makan. Pring terdiri dari beberap macam, ada piring penyeruwit (tempat wadah untuk olahan seruwit), adapula Pisin; piring untuk sambal.

“Menurut orang tua terdahulu, material piring-piring makan ini terbuat dari tulang” tukasnya sambil menunjukan piring makan berwarna broken white dimeja saji.
Selain itu, ada peranti saji yang disebut Tenong atau tempat nasi, adapula Bakei si tempat sayur, Pengjung sebagai tempat buah-buahan, Aghew sendok untuk mengambil kuah, Cetung sendok untuk mengambil nasi, serta ada Kubukan; mangkok cuci tangan. Lainnya ada Serbit Ratus; saputangan yang terbuat dari potongan sisa-sisa kain yang tidak terpakai. Ada Cekkigh; gelas untuk minum dan Tudung Sajei yaitu penutup hidangan yang terbuat dari bambu atau rotan



Seruit, Makanan tradisional yang Eksklusif
Mendengar judul di atas, mungkin membuat pembaca agak heran. Jangankan pernah mencicipi, pernah dengar tentang makanan inipun tidak pernah. Ya, oleh karena itu saya katakan "eksklusif" karena hanya orang Lampung saja yang tau makanan ini. Sangat jarang orang yang bukan suku Lampung mengenalnya.

Sebenarnya Seruit atau Kalau lidah orang lampung sering menyebutnya "seruwit", adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan Hap,, langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan Rasanya, benar2 luar biasa sensasinya.

Saya sebagai orang Lampung terkadang sangat merindukan momen nyeruwit ini. Terus terang, seruwit memang seru. Kenapa, karena pada saat inilah biasanya sekeluarga bahkan sekeluarga besar berkumpul. Duduk di tikar besar bersama dan makan bersama. atau Terkadang pula, berkumpul bersama teman-teman sambil nyeruwit.

Oleh karena itu, dapat saya katakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Tapi sayangnya, lagi-lagi pemerintah tidak pernah melihat ini. Menurut saya, kalau pemerintah, terutama Pemda mau peduli, Seruwit dan acara Nyeruwit mungkin bisa menjadi aset wisata unggulan. Coba kalau misalkan diadakan "Festival Seruwit". Ha ha ha, pasti Seru!"

Selain bisa memperkenalkan kebudayaan lokal, dengan diadakannya acara-acara seperti itu, juga merupakan sarana untuk mempertahankan kebudayaan yang entah sampai kapan bisa bertahan. Memang hari ini masih banyak keluarga-keluarga Lampung yang masih mempertahankan Tradisi seruwit, tapi bagaimana 10 atau 20 tahun lagi? kenal seruwit pun tidak lagi barangkali.


Mengapa Seruit Kurang dikenal?
Mengapa seruwit Lampung tidak terkenal dan kalah pamor sama kemplang atau keripik? banyak sekali faktor yang menyebabkan seperti itu.
Seruwit adalah makanan yang tidak awet, sehingga untuk dijadikan oleh-oleh keluar daerah tidak mungkin. Sedangkan kemplang, setiap anak-anak Lampung yang keluar daerah, habis pulang kampung, biasanya bawa oleh-oleh kemplang atau keripik untuk teman-temannya. Itulah yang membuat kemplang atau keripik terkenal dibanding seruwit.
Seruwit kasusnya sama dengan gudeg di Jogjakarta, sama-sama tak awet, tapi gudeg lebih terkenal.
Seruwit akan terkenal jika:
Yang Pertama, Di Lampung ada banyak warung yang menawarkan masakan khas Lampung, sehingga setiap pelancong yang datang, akan mencicipi seruit, dan lambat laun seruit Lampung akan terkenal. Sekarang kenyataannya dapat kita lihat, di BandarLampung sendiri sangat sulit menemukan warung khas Lampung. Yang ada adalah Masakan Minang, Wong Jowo, Warung Pempek. Lapo Tuak. Belum pernah saya lihat ada "Kedai Seruwit".
Terkadang Saya sulit membayangkan, pelancong jauh-jauh dari Padang ke Lampung hanya untuk makan Rendang Padang. Atau orang Jawa jauh-jauh menyeberang hanya untuk makan Soto, Sate, Pecel. atau Orang Palembang ke Lampung Untuk makan empek-empek Palembang. Sama Sekali Tiada kesan untuk kulinernya. Karena bagaimanapun Lebih Enak makanan di tempat Sumber Asalnya.
Yang kedua, Ada warung-warung makanan khas Lampung diluar daerah, misal di DIY, DKI, Tangerang, Surabaya, Medan dan lain-lain, yang menawarkan seruit. Sehingga seruit juga akan terkenal didaerah-daerah tersebut.
Sekarang, pernahkah kita melihat warung-warung atau rumah makan seperti yang saya katakan diatas? tentu belum atau jarang. Itulah yang buat seruwit tak terkenal.
Dan Yang Terakhir, Seruit adalah makanan "Eksklusif". Hanya orang Lampung Saja yang mau melakukannya. Selama ini Kalaupun ada orang Non Lampung yang ikut nyeruwit, itu karena dia berada ditengah-tengah komunitas Lampung. Seruwit akan terkenal jika bisa dilakukan oleh orang-orang Non Lampung. Namun Seruwit berbeda dari Rendang, pempek, Soto dll. Kalau kita mau buat Rendang, Bisa kita catat resepnya dan kita praktikkan di rumah. Sedangkan Seruwit? kita bisa catat resepnya namun untuk mempraktekkannya tentu sangat sulit bagi orang NonLampung. Semua itu karena Seruwit bukan sekedar Makanan, namun Ia adalah bagian dari Tradisi dan Kebudayaan. Yang sangat sulit dipraktikkan pada orang selain Lampung.

Namun Bagaimanpun Juga, Seruwit sebagai makanan maupun tradisi merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaganya. Memang, sekarang kita tidak menganggapnya Penting, dan kita tidak peduli. Tapi haruskah ada negara lain yang Mengklaim Seruit baru mata kita bisa terbuka. Saya Rasa itu bukan pemikiran yang bijak.


Cara Membuat Seruwit

Dari tadi, bicara tentang seruwit , tapi seruwit itu apa sih? mungkin teman-teman yang bukan suku Lampung agak bingung. Ini dia Seruwit:

Bahan-Bahan Seruwit:
-Ikan (Bisa Goreng atau Panggang. Ikannya ikan Patin, Mas atau Baung. Ikan lain juga Boleh, tergantung selera. Tapi saran Saya, ikan yang sudah saya sebutkan itulah yang enak)
- Sambal Terasi
- Terong ungu Panggang
-Limau Kunci (bisa diganti Kedondong hutan)
- Isi Timun
- Tempoyak
- Garam (kalau kurang asin)
-Air Secukupnya

Lalap rebus:
-Daun Singkong Rebus (bisa diganti daun Pepaya, kangkung atau bayem)

Lalap Mentah:
-Timun
-Jengkol (Bisa diganti Petai)
- Pucuk daun Jambu Mente
- Kacang Panjang
-Jinar (Sejenis Jahe)
-Wortel
-Kemangi

Cara Meracik :
Semua Bahan Seruit di campur dalam satu wadah. Diaduk dengan Tangan bersih.

Cara makan
Sudah dijelaskan Diatas.

Yang terpenting, dalam nyeruwit, kebersihan tangan harus diutamakan. Karena nyeruwit haruslah pakai tangan.

Kuliner : Seruit, Makanan Tradisional yang Eksklusif khas Lampung

Mendengar judul di atas, mungkin membuat pembaca agak heran. Jangankan pernah mencicipi, pernah dengar tentang makanan inipun tidak pernah. Ya, oleh karena itu saya katakan “eksklusif” karena hanya orang Lampung saja yang tau makanan ini. Sangat jarang orang yang bukan suku Lampung mengenalnya.
Sebenarnya Seruit atau Kalau lidah orang lampung sering menyebutnya “seruwit”, adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan Hap,, langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan Rasanya, benar2 luar biasa sensasinya.

Saya sebagai orang Lampung terkadang sangat merindukan momen nyeruwit ini. Terus terang, seruwit memang seru. Kenapa, karena pada saat inilah biasanya sekeluarga bahkan sekeluarga besar berkumpul. Duduk di tikar besar bersama dan makan bersama. atau Terkadang pula, berkumpul bersama teman-teman sambil nyeruwit.

Oleh karena itu, dapat saya katakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Tapi sayangnya, lagi-lagi pemerintah tidak pernah melihat ini. Menurut saya, kalau pemerintah, terutama Pemda mau peduli, Seruwit dan acara Nyeruwit mungkin bisa menjadi aset wisata unggulan. Coba kalau misalkan diadakan “Festival Seruwit”. Ha ha ha, pasti Seru!”



VIVAlife - Anda mungkin terbiasa menyantap makanan hanya dengan piring, sendok, dan garpu. Terkadang ditambah pisau. Praktis, minimalis, sama sekali tak neko-neko. Modern dan khas urban.

Namun, cobalah bertandang ke Lampung. Di sana, penyajian makanan tak sesederhana masyarakat perkotaan. Ada berbagai peranti unik yang bercita rasa seni tinggi.
Misalnya dalam tradisi Cuwak Mengan Nyeruwit, sambutan tuan rumah pada tamu untuk makan bersama.

Menurut Azizah Arozak, perwakilan Pemerintah Daerah Provinsi Lampung Tulang Bawang, ‘nyeruwit’ berasal dari kata ‘seruwit’. Itu makanan khas Lampung.

“Seruwit itu sambal yang dicampur ikan. Ikannya bisa diolah apa saja. Dibakar, dipepes, atau digoreng. Ditambah terung ungu bakar dan mentimun, dicampur menjadi satu,” ujarnya pada VIVAlife.

Untuk menyajikan makanan khas itu, perantinya bermacam-macam. Seruwit diletakkan dalam wadah besar, yang dihidangkan beralaskan tikar. Bahan dasar tikar itu pun tak sembarangan, yakni dari daun purun.

Dari dapur menuju tempat makan saja, sudah penuh tradisi berseni khusus. Ada Talam Dolang, yakni tempat membawa nasi, lauk, dan berbagai peralatan makan. Pada masyarakat umum, kurang lebih fungsinya sama dengan nampan.

Piring yang digunakan untuk makan, disebut Pighing. Jenisnya tak hanya satu. Ada piring penyeruwit sebagai wadah olahan seruwit, adapula Pisin atau piring untuk sambal. Bentuknya tentu berbeda-beda. Namun, warnanya serupa, broken white.

“Menurut orang tua terdahulu, material piring-piring makan ini terbuat dari tulang,” kata Azizah menerangkan.

Kalau orang biasa menyebut tempat nasi sebagai bakul, tradisi Lampung menamainya Tenong. Bakei merupakan tempat sayur, sedangkan Pengjung tempat buah. Sendok pun bermacam-macam. Untuk mengambil kuah, namanya Aghew. Cetung, adalah sendok pengambil nasi.

Orang Lampung tak biasa makan dengan sendok, garpu, apalagi pisau. Bagi mereka, makan dengan tangan lebih nikmat. Tak heran mereka mengenal Kubukan, mangkuk pencuci tangan. Ada pula Serbit Ratus, sapu tangan yang terbuat dari kain perca.

Selain itu, masih ada Cekkigh atau gelas. Serta Tudug Sajei, penutup hidangan yang terbuat dari bambu atau rotan.

Setelah semua sajian dan peranti lengkap, barulah tuan rumah mempersilakan tetamu untuk makan bersama. Berkumpul, tanpa ada jarak atau jeda. Semua makan dengan duduk bersimpuh atau lesehan. Azizah menuturkan, tradisi ini memiliki filosofi tersendiri.

“Artinya orang Lampung itu menyatu dalam kebersamaan, baik suka maupun duka,” katanya. Pasalnya, setelah makanan habis, tuan rumah dan tetamu tak langsung sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka berbagi cerita serta senda gurau di tempat makan.

Tradisi unik ini dipercaya mempererat hubungan tuan rumah dan tamunya. Filosofi yang sungguh mulia. Di daerah tertentu, tradisi Cuwak Mengan Nyeruwit masih dipertahankan hingga kini. (eh)


Seruit Makanan Khas Lampung
Berbagai masakan khas Lampung sering terdengar oleh masyarakat Indonesia di manapun. Tak berbeda jauh dengan ciri khas Palembang, selain memang lokasinya berdekatan masyarakat Lampung juga mengadopsi masakan yang berbau ikan dan sambal asem manis.

Masakan khas Lampung adalah seruit, yaitu masakan ikan digoreng atau dibakar dan dicampur dengan sambel terasi, tempoyak (olahan durian) ataupun mangga. Jenis ikan adalah besarnya ikan sungai seperti belide, baung, layis dll, ditambah lalapan. Sedangkan minumannya adalah serbat, terbuat dari jus buah mangga kwini. Di toko-toko makanan dan oleh-oleh, juga terdapat makanan khas yaitu sambel Lampung, lempok (dodol), keripik pisang, kerupuk kemplang, manisan dll.

Hidangan lalapan dalam sambal seruit bisa bervariasi, namun di Lampung dikenal berbagai jenis tumbuhan yang cocok menjadi bahan lalapan. Selain timun, petai, kemangi, kol dan tomat. Namun tersedia pula lalapan jagung muda, pepaya dan adas.

Masyarakat lampung sangat mempercayai bahwa jika ingin makan sebaiknya tidak sendiri. Karena mencicipi masakan seruit tak ada hasilnya jika tidak dinikmati oleh teman-teman ataupun banyak orang. Sehingga yang selalu ada dibenak mereka adalah siapa yang akan diseruit jika tidak ada orang lain dan ingin nyeruit apa? Hal ini mungkin terjadi karena perkataan ini berarti siapa yang akan dijahili dengan rasa pedasnya sambal dari seruit itu.

Hidangan lengkap seruit

Seperti banyak daerah, masyarakat Lampung gemar berkumpul. Saat berkumpul, makanan yang biasanya dinikmati adalah seruit.

Seperti masyarakat di banyak daerah di Indonesia, masyarakat Lampung adalah masyarakat yang gemar berkumpul dan bersilaturahmi, baik antar keluarga maupun antartetangga. Mereka berkumpul di acara pernikahan, acara adat, atau acara keagamaan.

Secara kultural, Lampung memiliki dua masyarakat adat, yakni Lampung Sai Batin dan Lampung Pepadun. Keduanya sama-sama memiliki kebiasaan berkumpul. Saat berkumpul, diperlukan makanan yang bisa dinikmati bersama-sama. Makanan tersebut adalah seruit.

Namun demikian, kebiasaan makan seruit tidak memliki oleh semua masyarakat adat. Hanya seruit secara turun termurun. Bagi Lampung Pepadun, seruit adalah makanan pokok.

Tapi Apa itu seruit? Seruit merupakan makanan berbahan ikan bakar yang dinikmati dengan sambal terasi dan beberapa jenis sayuran. Ikan yang digunakan biasanya ikan bawal, ikan gabus, ikan patin, pindang ikan, atau pepes ikan. Pemlihan jenis ikan ini disesuaikan dengan keinginan pembeli.

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk membuat seruit. Prosesnya, ikan yang sudah disediakan terlebih dahulu dibumbui dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbunya berupa bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan pun dibakar selama sepuluh menit.

Saat sudah setengah matang, ikan diolesi dengan kecap manis dan campuran bumbu dari bawang putih, garam, dan ketumbar. Sementara, sambal untuk campuran seruit adalah cabai merah, cabai kecil, garam, micin, rampai, dan terasi baker. Bahan sambal ini lalu ditumbuk hingga halus.

Untuk menikmatinya, seruit harus ditambahkan dengan tempoyak, yakni durian yang sudah diawetkan dan dihaluskan. Tak ketinggalan untuk menambahkan beberapa jenis lalapan, seperti daun kemangi timur, terong baker, jengkol, dan daun jambu monyet. Bahan tambahan ini kemudian dicampurkan dan diaduk menjadi satu.

Sebenarnya Seruit atau kalau lidah orang lampung sering menyebutnya “seruwit”, adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan rasanya, benar-benar luar biasa sensasinya.

Cara Makan Seruit

Oleh karena itu, dapat dikatakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Mengapa Seruit Kurang dikenal?
Mengapa seruwit Lampung tidak terkenal dan kalah pamor sama kemplang atau keripik? banyak sekali faktor yang menyebabkan seperti itu.

Seruwit adalah makanan yang tidak awet, sehingga untuk dijadikan oleh-oleh keluar daerah tidak mungkin. Sedangkan kemplang, setiap anak-anak Lampung yang keluar daerah, habis pulang kampung, biasanya bawa oleh-oleh kemplang atau keripik untuk teman-temannya. Itulah yang membuat kemplang atau keripik terkenal dibanding seruwit.

Seruwit kasusnya sama dengan gudeg di Jogjakarta, sama-sama tak awet, tapi gudeg lebih terkenal.

Seruwit akan terkenal jika:
Yang pertama, di Lampung ada banyak warung yang menawarkan masakan khas Lampung, sehingga setiap pelancong yang datang, akan mencicipi seruit, dan lambat laun seruit Lampung akan terkenal. Sekarang kenyataannya dapat kita lihat, di Bandar Lampung sendiri sangat sulit menemukan warung khas Lampung. Yang ada adalah Masakan Minang, Wong Jowo, Warung Pempek, Lapo Tuak dan lain-lain. Belum pernah ada “Kedai Seruwit”.

Terkadang sulit membayangkan, pelancong jauh-jauh dari Padang ke Lampung hanya untuk makan Rendang Padang. Atau orang Jawa jauh-jauh menyeberang hanya untuk makan Soto, Sate, Pecel. atau Orang Palembang ke Lampung Untuk makan empek-empek Palembang. Sama sekali tiada kesan untuk kulinernya. Karena bagaimanapun lebih enak makanan di tempat Sumber Asalnya.

Yang kedua, ada warung-warung makanan khas Lampung diluar daerah, misal di DIY, DKI, Tangerang, Surabaya, Medan dan lain-lain, yang menawarkan seruit. Sehingga seruit juga akan terkenal didaerah-daerah tersebut.

Sekarang, pernahkah kita melihat warung-warung atau rumah makan seperti itu diatas? tentu belum atau jarang. Itulah yang buat seruwit tak terkenal.

Dan yang terakhir, Seruit adalah makanan “Eksklusif”. Hanya orang Lampung saja yang mau melakukannya. Selama ini kalaupun ada orang Non Lampung yang ikut nyeruwit, itu karena dia berada ditengah-tengah komunitas Lampung. Seruwit akan terkenal jika bisa dilakukan oleh orang-orang Non Lampung. Namun Seruwit berbeda dari Rendang, pempek, Soto dll. Kalau kita mau buat Rendang, Bisa kita catat resepnya dan kita praktikkan di rumah. Sedangkan Seruwit? kita bisa catat resepnya namun untuk mempraktekkannya tentu sangat sulit bagi orang Non Lampung. Semua itu karena Seruwit bukan sekedar Makanan, namun Ia adalah bagian dari Tradisi dan Kebudayaan. Yang sangat sulit dipraktikkan pada orang selain Lampung.

Namun bagaimanpun juga, Seruwit sebagai makanan maupun tradisi merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaganya. Memang, sekarang kita tidak menganggapnya penting, dan kita tidak peduli. Tapi haruskah ada negara lain yang mengklaim Seruit baru mata kita bisa terbuka ??
Tak cuma sumber daya alam, Indonesia memiliki harta karun lain berupa budaya dan adat istiadat. Salah satunya, keberagaman tata cara penyajian makanan yang dimiliki tiap-tiap daerah.

Tata cara penyajian makanan ini tak lepas dari adat istiadat yang diturunkan dari nenek moyang setiap suku di Indonesia.

Keberagaman tata cara penyajian makanan ini juga didukung dengan seperangkat peralatan tata saji hidangan. Seluk beluk tata cara penyajian makanan tersebut dapat disaksikan pada Pameran Peranti Saji Indonesia yang kini sedang digelar di Jakarta Convention Center (JCC).

Pada pameran yang digagas Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini, para pengunjung dapat melihat kekhasan tiap-tiap daerah dalam menghidangkan jamuan, baik pada jamuan ringan maupun makanan berat.

Salah satunya, peranti saji asal Lampung, Sumatera Selatan. Daerah ini memiliki tradisi Cuwak Mengan Nyewruit yang artinya mengundang orang lain untuk nyeruwit bersama.

Nyeruwit berasal dari kata seruwit yang merupakan makanan khas masyarakat Lampung yang terdiri dari sambal terasi yang dicampur dengan ikan, terong ungu bakar dan mentimun.

Pada tata cara adat ini, seperangkat peralatan makan tak ketinggalan menambah kekentalan ada daerah. Peranti saja yang ada, seperti talam dolang (tempat untuk membawa nasi dan lauk pauk), pighing (piring), tenong (tempat nasi), bakei (tempat sayur), penjung (tempat buah), aghew (sendok untuk mengambil kuah), cetung (sendok untuk mengambil nasi), kubukan (mangkok cuci tangan), dan cekkigh (tempat untuk minum).

Menurut Azizah Aroza, salah satu peserta pameran dari wilayah Lampung ini, peralatan makan tersebut telah berumur antara 80 hingga 100 tahun.

"Peranti saji ini sudah jarang dipergunakan, tetapi biasanya dipakai untuk menjamu pada tetua adat atau tamu kehormatan," katanya saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (21/9/2013).

Selain dari daerah Lampung, dalam pameran juga menampilkan sejumlah peranti saji dari daerah lain seperti Riau, Jambi, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan lain-lain.

Selain menampilkan berbagai tata cara penyajian makanan, dalam pameran ini juga menampilkan produk kerajinan yang juga berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti kain, makanan, sepatu, aksesoris, dan sebagainya.

Bagi yang berminat, pameran ini sendiri berlangsung mulai 19-22 September 2013 di Assembly Hall 1, 2, dan 3 serta area lobi Jakarta Convention Center (JCC). Pameran ini sendiri gratis dan terbuka untuk umum. (Dny/Nur)


MAKANAN KHAS LAMPUNG

SERUIT


  makan seruit disebut dengan istilah nyeruit.. yang artinya adalah kegiatan makan yang dilakukan secara bersama-sama dengan hidangan sebagaimana tersebut di atas, yaitu
sambal seruit, ikan gabus bakar, lalapan berupa ketimun, labu siam rebus, daun-daunan segar, terong lurik muda yang bulat-bulat, dengan nasi putih yang masih “ngepul” panas. waktu saya nyobain sih emang mantap gitu sih, pedes-pedes nikmat gimana gitu...


Beberapa jenis masakan khas Lampung tersebut diantaranya adalah Seruit….Biasanya masakan khas Lampung ini menggunakan ikan sebagai bahan utamanya….Jenis ikan yang digunakan oleh masyarakat Lampung saat mengolah masakan Seruit antara lain, ikan belide, ikan sungai, ikan baung, dan ikan layis…. Lampung adalah seruit yaitu Makanan khasmasakan ikan digoreng atau dibakar dicampur sambel terasi, tempoyak (olahan durian) atau mangga…      


Bahan-bahan
500 gr ikan patin (atau bisa dengan ikan mas)
1/2 sdt garam
1 buah jeruk nipis


Bahan Sambal
1 bungkus terasi udang
50 gr cabe keriting
100 gr tomat ceri
3 butir bawang merah
garam secukupnya
tempoyak (duren fermentasi)
1 buah mangga, iris-iris sekecil mungkin
1 buah jeruk nipis, peras airnya


Cara Membuat:
Sambal: Panggang semua bahan kecuali garam, tempoyak, mangga dan jeruk nipis. Setelah matang, haluskan, masukkan garam, tempoyak, potongan mangga dan air perasan jeruk nipis.
Bersihkan ikan patin, potong-potong dalam ukuran kecil.
Campurkan potongan ikan dengan sambal, lalu remas-remas dengan tangan hingga lumat dan rata.
Sajian siap dihidangkan.


Nyeruit merupakan salah satu jenis masakan tradisional masyarakat Lampung, yang hingga saat ini masih sering dibuat, disajikan oleh keluarga di Lampung. Bahkan untuk menjamu apabila ada tamu yang berkunjung ke daerah Lampung.

Masakan ini merupakan masakan yang dibuat dari berbagai bumbu/ramuan, seperti cabai, merica, bawang, santan, garam, dan bahan utamanya adalah ikan, karena masyarakat Lampung tidak bisa terlepas dari jenis makanan dari ikan.

Nyeruit is one of the traditional cuisine of the people of Lampung, which is still often made, are served by a family in Lampung. Even if there were to entertain visitors to the area of ​​Lampung.
The cuisine is a cuisine made from various herbs / concoctions, such as chili, pepper, onion, coconut milk, salt, and its main ingredient is fish, because people can not Lampung regardless of the type of fish food.


Seruit Lampung, Makan Bersama yang Sarat Makna

OPINI | 06 February 2012 | 11:15 Dibaca: 332   Komentar: 9   0
Seperti hampir semua suku bangsa didunia, makan bersama adalah “ornamen” penting dalam acara kumpul-kumpul masyarakat Lampung. Dalam acara kumpul bersama ini tak jarang atau malah hampir bisa dipastikan seruit akan dihidangkan. Acara makan bersama dengan hidangan seruit ini biasa disebut nyeruit.
Nyeruit sudah menjadi tradisi turun-temurun oleh kedua suku dilampung baik oleh adat suku Say Batin maupun adat suku Pepadun (Lampung pesisir), tidak jelas sebenarnya siapa yang memiliki resep otentik seruit ini.
Mungkin banyak diantara pembaca yang ingin tahu apa sih seruit itu ? Pada dasarnya seruit adalah sambal mentah yang dihidangkan dalam cobek besar atau wadah dengan cara mencampurnya dengan berbagai macam lauk, utamanya ikan bakar yang diambil dagingnya kemudian disuwir, terong bakar, berbagai lalap sayuran baik mentah maupun yang direbus dan tentu saja nasi putih hangat.
seruit (sumber google gambar)
Nyeruit adalah sebuah festival kebersamaan yang hangat tanpa batas, tua muda atau apapun status sosial anda akan cair dalam acara nyeruit ini. Semua orang akan duduk melingkari wadah atau cobek yang berisi racikan seruit yang sudah diencerkan dengan air perasan jeruk nipis dengan sepiring nasi putih, anda dipersilahkan menjumput seruit dari wadahnya langsung dengan tangan anda Tanpa sendok) kemudian diletakan diatas nasi anda dan langsung hap!!! Atau sebaliknya anda menjumput nasi dari piring untuk kemudian dicocolkan ke seruit terserah mana yang yang anda suka. Tak sampai semenit bisa dipastikan pasti acara nyeruit ini akan tampak berantakan dengan seruit yang tercampur aduk dengan nasi yang menempel diujung jari para penyeruit ditingkahi canda dan obrolan ringan, tangan saling bersenggolan bahkan berebutan. Sungguh tak akan anda temukan suasana hangat ini dalam gala dinner manapun.
nyeruit masal (sumber lampung.tribunnews.com)
Nyeruit bagi saya pribadi adalah sebuah inisiasi dalam hubungan pertemanan, sebagai pendatang saya berusaha melebur dengan adat setempat mencari sebanyak-banyaknyanya teman dan berusaha mempelajari adat istiadat tempat saya menumpang hidup, setelah beberapa saat saling mengenal dan merasa dekat, tetangga yang kebetulan adalah orang lampung asli mengundang saya untuk nyeruit dengan ibu-ibu lain disekitar rumah, yang saya langsung iyakan tanpa keraguan, karena disaat itulah saya merasa benar-benar lebur dan diterima menjadi bagian masyarakat ditempat baru saya, hubungan kami menjadi lebih dekat dan hangat, sehangat sensasi seruit di mulut saya.
Salam hangat dari ujung pulau Sumatera.


No comments:

Post a Comment